
Di antara enam bersaudara, Delya Sapitri tumbuh sebagai sosok kelima yang tak gentar bermimpi besar. Sejak kecil, saya telah memahami bahwa hidup adalah tentang meraih peluang. Dan kini, saya tengah menapaki dua jalur ambisius secara bersamaan.
Setiap pagi, Delya bertransformasi menjadi karyawan berdedikasi di sebuah perusahaan swasta, menavigasi dinamika dunia korporat dengan ketekunan dan profesionalisme. Di sanalah saya mengasah kemampuan praktis, belajar tentang tanggung jawab, dan berkontribusi nyata pada sebuah tim. Namun, seiring mentari terbenam, semangat Saya tak ikut padam. Saya beralih peran menjadi mahasiswa di ATITB, menjejakkan kaki di dunia akademis untuk memperkaya ilmu dan mempertajam pemikiran kritis.
Mengapa saya melakukan semua ini?
Bagi banyak orang, menjalani dua peran sekaligus adalah beban. Namun bagi Saya, ini adalah investasi waktu yang tak ternilai. Saya percaya pada satu prinsip hidup yang kuat:
“Kesuksesan bukan milik mereka yang sekadar menunggu peluang, tapi milik mereka yang berani melipatgandakan lelahnya hari ini demi kenyamanan di masa depan. Menjadi anak kelima dari enam bersaudara mengajarkan saya bahwa bangku keberhasilan tidak disediakan secara cuma-cuma; kita harus membangun kursi kita sendiri.”
Saya membuktikan bahwa keterbatasan waktu bukanlah penghalang, melainkan ujian fokus. Saya tidak hanya mengejar gelar atau gaji, saya sedang membangun warisan bagi diri saya dan keluarga. Ambisi yang saya miliki bukan untuk sombong, melainkan untuk menjadi bukti hidup bahwa seorang perempuan bisa mandiri secara finansial sekaligus unggul secara akademis.
“Saya mungkin punya waktu istirahat yang lebih sedikit dari orang lain, tapi saya punya alasan yang jauh lebih besar untuk tidak menyerah. Karena bagi saya, gagal dalam berjuang jauh lebih terhormat daripada menyerah sebelum berperang.”
Perjalanan ini bukanlah tanpa tantangan. Menjadi anak kelima dari enam bersaudara telah mengajarkan saya arti kemandirian dan bagaimana berjuang demi tempatnya. Kini, saya membawa pelajaran berharga itu ke dalam setiap lembar kerja dan setiap sesi perkuliahan. Bagi saya, profesi ganda ini bukan beban, melainkan jembatan menuju cita-cita menjadi Orang Sukses.
“Mimpi tinggi itu bukan untuk ditakuti, tapi untuk dijemput”